Isra Mi’raj: Shalat On Time, Akhlak Prime

Ust. Alfian Riswanda Sofyanto saat mengisi acara pengajian Isra Mi’raj di Masjid At-Taqwa SMA Muhammadiyah 2 Surakarta

MUHASKA.SCH.ID, Surakarta – Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang digelar pada Kamis, 15 Januari 2026, menjadi momentum refleksi mendalam bagi para siswa dan tenaga pendidik. Menghadirkan penceramah muda Ustadz Alfian Riswanda Sofyanto, S.Pd.I, M.Pd dari majelis PDM Surakarta, acara ini mengusung tema “Shalat On Time, Akhlak Prime.”

Kepala Sekolah, Sri Darwati, S.Pd, M.Pd dalam sambutannya menegaskan bahwa tema tersebut merupakan pengejawantahan langsung dari visi dan misi sekolah dalam membentuk karakter peserta didik. Menurutnya, kecerdasan akademik tidak akan berarti tanpa fondasi etika yang kokoh.

Kepala Sekolah Ibu Sri Darwati, S.Pd, M.Pd saat memberikan sambutan di acara Isra Mi’raj

“Akhlak itu sangat penting. Kami berharap momen Isra Mi’raj ini menjadi pengingat bagi kita semua akan krusialnya menjaga shalat dan memperbaiki perilaku dengan meneladani Rasulullah SAW,” ujarnya.

Amul Huzni: Diplomasi Langit di Tengah Kesedihan

Dalam tausiyahnya, Ustadz Alfian membawa audiens menyelami sisi manusiawi kehidupan Nabi Muhammad SAW. Ia memaparkan betapa beratnya ujian yang dialami Rasulullah sejak kecil—menjadi yatim piatu di usia enam tahun, hingga kehilangan pelindung utamanya, sang kakek Abdul Muthalib, dua tahun kemudian.
Puncak ujian tersebut terjadi pada tahun ke-10 kenabian, yang dikenal sebagai Amul Huzni atau Tahun Kesedihan. Saat itu, pamannya Abu Thalib dan istrinya Khadijah binti Khuwalid wafat.

“Sebagai obat penghibur atas kesedihan yang bertubi-tubi itu, Allah memperjalankan Nabi dalam Isra Mi’raj, dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga ke Sidratul Muntaha,” kata Alfian.

Ia menjelaskan bahwa pada masa itu, peristiwa perjalanan semalam tersebut dianggap mustahil secara logika karena jarak tempuh normal dengan unta bisa memakan waktu satu hingga dua bulan. “Jika zaman sekarang, mungkin orang lebih mudah percaya karena adanya teknologi. Namun saat itu, ini adalah murni ujian keimanan,” tambahnya.

Urgensi Shalat dan Pendidikan Karakter

Ustadz Alfian juga menggarisbawahi keistimewaan perintah shalat dibandingkan ibadah lainnya. Jika perintah lain turun melalui wahyu ayat Al-Quran, perintah shalat mengharuskan Nabi Muhammad menghadap langsung ke hadirat Allah SWT. Dimulai dari perintah 50 waktu hingga menjadi 5 waktu melalui proses negosiasi yang penuh kasih, Nabi akhirnya merasa malu untuk meminta keringanan lagi.

“Jangan pernah remehkan shalat. Dalam kondisi sesulit apa pun, jangan pernah tinggalkan,” tegasnya.

Suasana sempat riuh saat Ustadz Alfian memberikan tantangan (challenge) kepada jamaah. Ia menjanjikan hadiah bagi siapa saja yang belum pernah meninggalkan shalat sejak masa akil balig hingga saat ini.

Di akhir ceramah, ia mengaitkan keteladanan Rasulullah dengan konsep pendidikan karakter yang kini digalakkan pemerintah. Ia menantang hadirin untuk merenungkan kembali beban hidup mereka.

“Ada tidak yang ujiannya melebihi beratnya ujian Rasulullah? Kalau ada, silakan tunjuk jari,” ucapnya retoris, menekankan bahwa keteguhan akhlak Nabi di tengah penderitaan adalah standar tertinggi bagi umatnya.

Penulis: Staf Kurikulum dan Al Islam

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Scroll to Top